Review Film: Cek Toko Sebelah

Di Bioskop, Film 1438 views

Review Film Cek Toko Sebelah – Film “CTS” atau cek toko sebelah yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Ernest Prakarsa ini dapat menghibur penontonnya. Terbukti dengan jumlah banyaknya orang yang menonton film ini.

cek toko sebelah

Tanggal Rilis: 28 Desember 2016
Genre: Drama, Comedy
Durasi: 90 Minutes
Sutradara: Ernest Prakasa
Pemeran: Ernest Prakasa, Dion Wiyoko, Chew Kinwah, Gisella Anastasia, Adinia Wirasti, Tora Sudiro

“Om telolet om!” Kalimat yang sudah pernah menyerempet pendengaran saya beberapa tahun ke belakang kala saya menumpang bis di terminal Kampung Rambutan itu kini mendadak menemui tenarnya. Mulai dari bocah kampung hingga bocah komplek, remaja ‘rebek’ hingga yang berintelek, tukang sayur hingga (salah satu) calon gubernur, bahkan public figure.

Banyak makna dari satu kalimat dengan 3 kata tersebut. Namun satu yang paling membekas di benak saya, ialah kalimat sesederhana itu dapat memberikan kebahagiaan yang amat kentara, menghadirkan tawa yang mungkin sedang dilupa. Seolah memberi kita sedikit tamparan, ketika kini berada di era dengan segala kemewahan terpampang dengan mudah, ada secuil kebahagiaan hanya dari suara klakson bus.

Cek Toko Sebelah bagi saya memiliki sinonim dengan kalimat “Om telolet om!” Film ini tidak menghadirkan script dengan twist besar-besaran, tidak pula menghadirkan aksi heist menggunakan peretasan, apalagi memiliki sosok pembunuh yang memangsa satu-persatu karakter dalam cerita yang berkeliaran. Namun film ini mampu membuat seisi studio tenggelam dalam tawa. Cek Toko Sebelah adalah film dengan premis sederhana dan ide cerita yang orisinil. Penuturan cerita terasa jujur dan apa adanya serta situasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga meskipun sederhana, film ini terasa memiliki banyak makna.

Saya kembali angkat topi untuk Ernest Prakasa. Cek Toko Sebelah seolah menjadi bukti bahwa kesuksesannya dalam menghadirkan sebuah film yang rapi dengan tempo yang hampir terjaga sepanjang durasi bukanlah sebuah “beginner’s luck” belaka. Bahkan dalam film ini Ernest seolah semakin detail dalam mengarahkan setiap adegan, sehingga terlihat setiap set, menit, karakter, dan dialog hampir termanfaatkan seluruhnya dengan baik.

Gaya penulisan skenario pun semakin matang, di mana Ernest dalam pengembangan ceritanya dibantu oleh Jenny Jusuf dan istrinya sendiri, Meira Anastasia, sehingga membuat cerita lebih berkembang. Pakem Ernest dalam menyusun skenario saya rasa terlatih dari kemampuannya menulis sebuah materi stand up comedy. Premis-punchline disusun dengan rapi sehingga build up suatu adegan terasa detail dan tidak meninggalkan kesan berlubang (meskipun tetap ada). Output yang dihasilkan, baik itu adegan lucu maupun menyentuh, sukses disampaikan dengan porsi yang cukup pas.  Call back pada beberapa adegan pun dilakukan secara tepat sasaran, meskipun ada yang overused, tetapi secara keseluruhan mampu me-refresh tawa dengan sangat cepat.

Casting para pemeran pun dilakukan dengan amat baik dan pas. Akting dari Dion Wiyoko, Adinia Wirasti, Gisella Anastasia, dan Chew Kinwah, dibantu oleh pemeran pendukung seperti Budi Dalton, Dodit Mulyanto dan Tora Sudiro, saling mengisi dan membuat film ini penuh warna.  Selain itu, film ini pun didukung oleh pemeran-pemeran yang sudah tidak asing di dunia televisi dan stand up comedy, sehingga ada rasa keterikatan tersendiri dari penonton yang sudah menghadirkan mood yang baik, bahkan ketika film baru beberapa detik berlangsung. Lucunya, ternyata Kaesang Pangarep, putra kedua dari Presiden kita benar-benar mendapat peran serta line yang surprisingly cukup memorable. Scoring musik serta pemilihan soundtrack pun dilakukan dengan baik di mana soundtrack dari lagu ini blend dengan cerita, sehingga memberi tambahan suasana terhadap suatu adegan. Beberapa candaan, percakapan, slang, serta perilaku yang amat dekat dengan keseharian membuat film ini dapat dengan mudah merebut hati penonton, sehingga penonton seolah menyaksikan film dengan merefleksikan adegan dengan keseharian mereka.

Tetapi tentu saja, tak ada gading yang tak retak. Meskipun kemampuan di belakang layar seorang Ernest Prakasa sudah meningkat jauh, tetapi terkadang aktingnya masih sedikit kaku kala disandingkan dengan para pemeran lain yang notabene sudah terlebih dahulu malang melintang di dunia seni peran. selain itu gaya percakapan Ernest – Giselle yang ala-ala orang metropolitan masa kini, di mana mereka mencampurkan “lidah singkong” dan “lidah keju” terasa kurang sreg bagi saya. Sedikit lubang tentang background konflik Dion-Adinia Wirasti dan Chew pun kurang terasa dalam. Tetapi secara overall, film ini merupakan film yang komplit. Bukan hanya mengibur, film ini mampu menyadarkan kita, bahwa kebahagiaan, tidak melulu berasal dari mobil mewah, jabatan tinggi, dan kertas warna-warni, terkadang bahagia sesimpel “O̶m̶ Koh Telolet O̶m̶ Koh!“.

Overall: 8,8/10

 

oleh: @kutufilm

loading...

Kata kunci terkait:

  • kelebihan dan kekurangan film cek toko sebelah
  • resensi film cek toko sebelah
  • kekurangan dan kelebihan cek toko sebelah
  • kekurangan dan kelebihan film cek toko sebelah
  • kelebihan cek toko sebelah
  • kelebihan dan kekurangan cek toko sebelah
  • resensi film cts
  • resensi cts
  • ulasanfilm cek toko sebelah
  • kelebihan dan kekurang film cek toko sebelah

Tags: #film #Review

author
Penulis: 
Maniac review motor, mobil, film, dan gadget. Silakan nilai review dari kami dan berikan pendapat dengan komentar.
Kualitas Film HDTV Bagus Gak Sih?
Kualitas Film HDTV Bagus Gak Sih?
kualitas HDTV – Bagus tidaknya film tergantung
Review Film: Passengers (Perfect Illusion) 2016
Review Film: Passengers (Perfect Illusion) 2016
Review Film Passengers 2016 – Film bergenre
Review Film: Hangout
Review Film: Hangout
Review Film Hangout – Film yang dimainkan sekaligus
Review Film: Ouija 2 (Origin of Evil) 2016
Review Film: Ouija 2 (Origin of Evil) 2016
Sudah lama tak me-review film, bagi kalian

Tinggalkan pesan "Review Film: Cek Toko Sebelah"

Baca Juga×

Top