Review Film: Hangout

Di Bioskop, Film 977 views

Review Film Hangout – Film yang dimainkanĀ sekaligus disutradarai oleh Raditya Dika, kembali menyita jutaan penonton setelah sepekan diputar. Lalu, bagaimana nih reviewnya? silakan baca dibawah ya šŸ˜€


Judul Film: Hangout

Waktu: 90 menit

Director: Raditya Dika

Casts: Prilly Latuconsina, Soleh Solihun, Gading Marten, Raditya Dika, Titi Kamal, Mathias Muchus, Surya Saputra, Dinda Kanya Dewi, Bayu ‘Skak’,

Review Film Hangout by Kutu Klimis

review film hangout raditya

“Tolong buat paper tentang materi ABC, minimal 10 halaman, print dan jilid”. Begitu biasanya guru atau dosen dengan ‘entengnya’ meminta siswa maupun mahasiswa untuk memenuhi prosentase nilai dengan menyodorkan tugas yang mengharuskan mereka mencari data dari berbagai sumber, entah itu buku maupun internet.

Tetapi di zaman serba canggih ini, tentunya buku fisik sedikit ditepikan dan penggunaan internet untuk mencari materi seolah sudah menjadi suatu hal yang ‘fardhu ain’. Kemudian dari mereka yang mencari bahan melalui internet ini, terbagi menjadi 3 golongan, mereka yang betul-betul membaca dan membuat materi sesuai pemahaman mereka, mereka yang menyalin keseluruhan materi dengan keajaiban Co-Pas, dan satu lagi mereka yang cerdik merekonstruksi bahan yang mereka dapat dengan Co-Pas untuk kemudian membuat bahan tersebut menjadi “gaya mereka”. Haram kah? Tentu tidak, setelah Equil, Sari Roti, dan Topi Sinterklas, saya belum mendengar bahwa copas adalah hal yang haram (selama memenuhi kondisi tertentu), jadi tidak. Saya rasa ini bukan hal yang haram.

Beralih kepada Raditya Dika yang tahun ini secara mengejutkan menelurkan sepasang film, yaitu Koala Kumal dan Hangout, saya harus mengatakan bahwa dibanding Koala Kumal, Hangout terasa terburu-buru dalam penyusunan dan pembuatannya. Saya merasakan banyak hal yang tanggung dari film ini. Baik dari script, maupun persiapannya. Seolah saat membuat ini Radit berkata pada dirinya sendiri “lo harus bikin yang beda dit, sebelom 2016 berakhir, lo harus tunjukkin kalo lo beda. Meskipun lo tetep belom nikah, lo harus tunjukkin kalo film yang lo buat bukan cuma film cinta-cinta ala remaja belum sunat”, kemudian terciptalah Hangout.

Sejujurnya film ini bukan film yang jelek, sama sekali tidak. Tapi sayangnya film ini terkesan dipaksakan. Mengapa saya bisa dengan sok tahunya berkata seperti itu? Karena film ini termasuk dari golongan ke tiga dari golongan yang telah disebutkan tadi. Film ini tentunya tidak hanya membaca untuk kemudian membuat dengan gaya sendiri, tidak juga secara terang-terangan Co-Pas, tapi film ini dengan cerdik mengambil garis besar dari And Then There Were None, merekonstruksi sedemikian rupa, dan membuatnya menjadi gaya Radit yang kocak.

Saya sedikit menyayangkan beberapa detail dan garis besar cerita hampir seluruhnya terinspirasi dari mini-series yang diangkat dari novel tersebut. Memang ada unsur komedi yang diterapkan disini, namun unsur komedi yang ditampilkan terkadang “roaming”, karena meskipun komedinya populer namun itu hanya bagi kalangan tertentu. Seperti opening film yang seolah menyindir film Triangle, atau line “Youtube kan lebih dari tv. Boom!” Tidak semua penonton memahaminya. Beberapa punchline pun tidak tepat terkena sasaran.

But well, saya apresiasi usaha dari Raditya Dika untuk keluar dari zona nyamannya. Kita semua tahu bahwa selama ini ia membuat film dengan tema cinta, jomblo, patah hati, dan sejabanya. Hangout seolah menjadi sebuah batu loncatan yang ia susun untuk membuktikan bahwa ia tidak hanya mampu membuat film drama cinta komedi, tapi juga drama misteri komedi, meskipun hasil rekonstruksi, yang cukup menghibur.

Tidak ada yang salah memang. Kita tahu banyak dari film-film hollywood yang diparodikan, bahkan karakter ikonik serta adegannya turut dihadirkan dalam versi nyeleneh seperti dalam Scary Movies. Tetapi kemudian ketika kita tahu bahwa Scary Movies adalah jelas-jelas film parodi, sedangkan Hangout adalah film ‘karya’, akan sedikit berbohong bila kemudian ada yang berkata, “keren ya, kok bisa kepikiran bikin film kaya gitu.” Karena sebenarnya orisinalitas dari film ini adalah “hasil rekonstruksi”.

Tetapi bila ada hal yang saya nikmati dari film ini, yaitu kemampuan akting dari Prilly Latuconsina. Kita dapat melihat dalam film ini bahwa Prilly memiliki prospek karier yang cukup menjanjikan di dunia seni peran.

Untuk ukuran film, tone, gaya cerita, serta keseluruhan elemen, saya akui Raditya Dika bekerja dengan cukup baik. 6/10 dari saya. Tetapi kemudian karena aspek “orisinalitas”, 4/10 adalah angka yang tepat. Karena bagi personal seperti Raditya Dika, yang dianggap menginspirasi, kreatif, dan multi talenta, saya rasa ia seharusnya mampu membuat cerita yang lebih orisinil, bukan dengan merekonstruksi cerita yang sudah ada. But (ironically) as one of line from the movie said, “Lu mau bikin yang bagus, atau mau makan?” Pada akhirnya kita semua butuh makan, bukan?

Overall: 4/10

loading...

Kata kunci terkait:

  • kelebihan dan kekurangan film hangout
  • kekurangan dan kelebihan film hangout
  • kekurangan film hangout
  • kelemahan dan kelebihan film hangout
  • kelebihan film hangout
  • kelebihan kekurangan film gangout
  • kekurangan filem hangout
  • ulasan kekurangan dan kelebihan film
  • kelebihan dan kekurangan film hangou
  • kekuranganfilm hangout
author
Penulis: 
Maniac review motor, mobil, film, dan gadget. Silakan nilai review dari kami dan berikan pendapat dengan komentar.
Review Film: Cek Toko Sebelah
Review Film: Cek Toko Sebelah
Review Film Cek Toko Sebelah – Film
Review Film: Passengers (Perfect Illusion) 2016
Review Film: Passengers (Perfect Illusion) 2016
Review Film Passengers 2016 – Film bergenre
Review Film: Ouija 2 (Origin of Evil) 2016
Review Film: Ouija 2 (Origin of Evil) 2016
Sudah lama tak me-review film, bagi kalian
Arti Extended, Limited, Director Cut, & Unrated
Arti Extended, Limited, Director Cut, & Unrated
Apa sih Arti atau Maksud dari Film

Tinggalkan pesan "Review Film: Hangout"

Baca Juga×

Top